Home » Daerah » Mata Jateng » Menelusuri Sejarah Tenun Troso Jepara: Warisan Sang Ulama yang Kini Mendunia

Menelusuri Sejarah Tenun Troso Jepara: Warisan Sang Ulama yang Kini Mendunia

JEPARA | MATAMERDEKA.COM – Jika Anda berkunjung ke Desa Troso di Kecamatan Pecangaan, Jepara, suara ketukan kayu dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) akan menjadi musik latar yang tak terpisahkan. Namun, di balik kemasyhurannya sebagai pusat industri wastra, terdapat sejarah panjang yang bermula dari sebuah pengabdian spiritual pada abad ke-19.

Tenun Troso bukan sekadar komoditas ekonomi; ia adalah lembaran sejarah yang ditenun dengan kesabaran, tradisi, dan kearifan lokal yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Awal Mula: Dakwah dan Keterampilan Mbah Shodiq

Akar sejarah Tenun Troso diyakini kuat berpangkal dari sosok Mbah Shodiq, seorang ulama sekaligus tokoh masyarakat di Desa Troso pada masa itu.

Menurut penuturan para sesepuh desa, Mbah Shodiq memulai tradisi ini sebagai bentuk kemandirian ekonomi bagi santri dan pengikutnya. Awalnya, kain yang dihasilkan hanya berupa kain putih polos atau kain sarung sederhana yang digunakan untuk keperluan ibadah dan pakaian sehari-hari. Keterampilan ini kemudian ditularkan secara turun-temurun kepada warga desa sebagai bekal hidup.

Evolusi Motif: Dari Polos ke Keindahan Ikat

Hingga era 1960-an, Tenun Troso masih didominasi oleh motif-motif sederhana seperti garis-garis atau kotak-kotak. Titik balik besar terjadi ketika para pengrajin mulai mengenal teknik tenun ikat.

Teknik ini memungkinkan pengrajin menciptakan motif yang lebih kompleks dan artistik melalui proses pengikatan benang sebelum dicelup warna. Sejak saat itu, motif Tenun Troso berkembang pesat, mulai dari corak khas nusantara, motif etnik kontemporer, hingga motif khusus pesisiran yang mencerminkan karakter masyarakat Jepara yang dinamis.

Era Keemasan dan Inovasi 2026

Memasuki tahun 2026, Tenun Troso telah mengalami transformasi luar biasa. Dari yang awalnya hanya dibuat untuk kebutuhan lokal, kini kain ini telah merambah panggung fashion internasional. Inovasi tidak lagi terbatas pada sarung, melainkan telah masuk ke ranah:

  • Busana Modern: Jaket, blazer, gaun, hingga kemeja formal premium.
  • Aksesori: Tas, sepatu, dan dekorasi interior rumah tangga.
  • Teknologi Warna: Penggunaan pewarna alam yang ramah lingkungan namun tetap menghasilkan warna yang tajam dan tahan lama.

Ciri Khas yang Menjadi Pembeda

Apa yang membuat Tenun Troso begitu istimewa di mata kolektor kain dunia?

  • Tekstur Padat: Tenunan tangan manual menghasilkan kepadatan kain yang berbeda dengan buatan mesin.
  • Variasi Motif Tanpa Batas: Fleksibilitas pengrajin Troso dalam meniru atau menciptakan motif baru menjadikannya sangat kompetitif.
  • Ketahanan Warna: Proses pencelupan tradisional memastikan warna kain tetap cemerlang meski telah digunakan bertahun-tahun.

Menjaga Identitas di Tengah Arus Modernisasi

Bagi masyarakat Desa Troso, menenun adalah cara mereka merawat identitas. Di tengah gempuran tekstil pabrikan, keberadaan ribuan pengrajin di desa ini membuktikan bahwa nilai seni manusia tetap memiliki tempat spesial.

Pemerintah Kabupaten Jepara pun terus mendorong “Troso Naik Kelas” melalui berbagai ajang desain busana modern, memastikan bahwa warisan Mbah Shodiq ini tidak hanya bertahan di museum sejarah, tetapi juga terus hidup di lemari pakaian generasi masa kini.


(Joe)