JEPARA | MATAMERDEKA.COM – Tradisi Lomban dan prosesi larungan menjadi bagian penting dari perayaan Syawalan di Kabupaten Jepara yang rutin digelar setiap tahun setelah Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga sarat nilai sejarah, spiritual, dan kebersamaan masyarakat pesisir.
Lomban biasanya dilaksanakan sekitar sepekan setelah Lebaran, tepatnya pada bulan Syawal. Masyarakat menyambutnya dengan berbagai rangkaian kegiatan yang meriah, mulai dari kirab budaya hingga pesta rakyat yang melibatkan nelayan dan warga setempat.
Puncak Acara: Larungan ke Laut
Bagian paling sakral dari tradisi ini adalah prosesi larungan, yakni melarung sesaji ke laut, yang umumnya berupa kepala kerbau dan hasil bumi. Prosesi ini dilakukan di tengah laut dengan menggunakan kapal, diiringi ratusan perahu nelayan yang turut meramaikan acara.
Larungan tersebut memiliki makna sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah serta doa agar para nelayan selalu diberikan keselamatan saat melaut. Tradisi ini juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Warisan Budaya Sejak Ratusan Tahun
Tradisi Lomban telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jepara. Bahkan, catatan sejarah menyebutkan tradisi ini sudah dikenal sejak abad ke-19 dan terus dilestarikan hingga sekarang.
Selain nilai spiritual, Lomban juga mengandung nilai sosial dan ekonomi. Ribuan masyarakat biasanya memadati kawasan pesisir untuk menyaksikan prosesi ini, sehingga turut mendorong sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Rangkaian Kegiatan Budaya
Sebelum prosesi larungan, biasanya digelar berbagai kegiatan seperti ziarah ke makam leluhur, pertunjukan wayang kulit, hingga kirab budaya. Setelah itu, masyarakat bersama-sama mengikuti puncak acara di laut.
Tradisi ini pun menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan antarwarga, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah turun-temurun dijaga oleh masyarakat Jepara.
(Joe)

