JEPARA | MATAMERDEKA.COM – Tradisi Bodho Kupat masih terus dilestarikan masyarakat Kabupaten Jepara sebagai bagian dari perayaan pasca-Idulfitri. Tradisi ini biasanya digelar sekitar sepekan setelah Lebaran, bertepatan dengan bulan Syawal, dan menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi antarwarga.
Bodho Kupat tidak sekadar menghadirkan hidangan khas berupa ketupat, tetapi juga sarat makna filosofis. Anyaman janur pada ketupat melambangkan kerendahan hati dan simbol permohonan maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan. Tradisi ini pun menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa yang mengedepankan nilai kebersamaan dan saling memaafkan.
Dirayakan Setelah Idulfitri
Berbeda dengan daerah lain yang menyajikan ketupat saat Lebaran, masyarakat Jepara justru merayakannya beberapa hari setelah Idulfitri. Tradisi ini dikenal juga sebagai “Lebaran Kupat” dan biasanya berlangsung setelah umat Muslim menuntaskan puasa sunnah di bulan Syawal.
Pada momen tersebut, warga berkumpul bersama keluarga maupun tetangga untuk menikmati hidangan ketupat lengkap dengan lauk pendamping. Suasana kebersamaan ini menjadi sarana mempererat hubungan sosial sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.
Gerakkan Ekonomi Warga
Selain memiliki nilai budaya dan religi, Bodho Kupat juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Menjelang perayaan, permintaan terhadap janur (daun kelapa muda) meningkat tajam. Banyak warga yang memanfaatkannya sebagai peluang usaha dengan menjual bahan baku maupun ketupat siap pakai.
Tradisi ini pun tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Simbol Kebersamaan dan Maaf
Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Bodho Kupat menjadi pengingat akan pentingnya saling memaafkan setelah Idulfitri. Anyaman ketupat yang rumit mencerminkan kesalahan manusia, sementara isi di dalamnya melambangkan hati yang bersih setelah saling bermaafan.
Dengan makna yang mendalam tersebut, Bodho Kupat tetap bertahan sebagai tradisi khas Jepara yang memperkuat nilai kebersamaan, spiritualitas, dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
(Joe)

