Home » Daerah » Mata Jateng » Menelusuri Jejak Sejarah Ukir Jepara: Dari Warisan Sang Maestro Sungging Badar Duwung hingga Mendunia

Menelusuri Jejak Sejarah Ukir Jepara: Dari Warisan Sang Maestro Sungging Badar Duwung hingga Mendunia

Ukir Jepara

JEPARA | MATAMERDEKA.COM – Kabupaten Jepara tidak hanya dikenal karena keindahan pantainya, tetapi juga karena julukannya sebagai “The World Carving Center”. Namun, pernahkah Anda bertanya bagaimana awalnya seni pahat kayu yang begitu detail ini bisa tumbuh dan mengakar kuat di Bumi Kartini?

Seni ukir Jepara bukanlah sekadar keahlian teknis, melainkan warisan budaya yang memiliki benang merah sejarah panjang sejak masa pemerintahan Ratu Kalinyamat di abad ke-16.

Legenda Sang Maestro: Sungging Badar Duwung

Akar sejarah ukir Jepara sering dikaitkan dengan kedatangan seorang pengukir ulung dari Tiongkok bernama Tjie Bin Thiam, yang kemudian dikenal dengan nama Sungging Badar Duwung.

Menurut cerita turun-temurun, ia adalah pengukir kepercayaan Sultan Hadlirin (suami Ratu Kalinyamat). Keahliannya dalam memahat batu putih untuk ornamen masjid dan makam Mantingan menjadi fondasi awal gaya ukiran Jepara. Gaya khasnya yang memadukan akulturasi budaya Tionghoa dan lokal kini masih bisa kita saksikan pada relief Masjid Mantingan yang eksotis.

Peran Strategis Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat memiliki andil besar dalam menjadikan ukir sebagai identitas daerah. Pada masanya, seni ukir tidak hanya berfungsi sebagai penghias tempat ibadah, tetapi juga mulai diterapkan pada perabot istana dan kapal-kapal perang Jepara yang megah. Dukungan penuh kerajaan inilah yang membuat profesi pengukir menjadi terhormat dan berkembang pesat di kalangan rakyat jelata.

Era Kartini: Membawa Ukir Jepara ke Panggung Internasional

Jika Sungging Badar Duwung adalah peletak dasar, maka R.A. Kartini adalah sosok yang membukakan pintu dunia. Pada akhir abad ke-19, Kartini merasa prihatin dengan nasib para pengrajin ukir di Desa Belakang Gunung yang hidup dalam kemiskinan meskipun memiliki bakat luar biasa.

Melalui surat-suratnya kepada teman-temannya di Belanda, Kartini mempromosikan kerajinan tangan Jepara. Ia bahkan mengirimkan contoh karya ukir ke pameran-pameran di Eropa. Berkat usaha Kartini, ukir Jepara mulai dikenal luas di luar negeri dan pesanan mulai mengalir dari benua biru, yang kemudian mengangkat derajat ekonomi para pengrajin.

Ciri Khas yang Tak Tergantikan

Apa yang membuat ukir Jepara berbeda dari daerah lain?

  • Motif Jumbai Daun: Ukiran Jepara dikenal dengan motif daun yang melungker (melengkung) halus dengan ujung yang runcing.
  • Kerapian Pahat: Detail pengerjaan yang sangat halus dan presisi.
  • Karakter Kayu Jati: Penggunaan kayu jati berkualitas tinggi yang memberikan kesan mewah dan tahan lama.

Menjaga Warisan di Era Modern

Memasuki tahun 2026, tantangan pelestarian seni ukir semakin nyata di tengah gempuran mesin CNC dan furnitur minimalis. Namun, semangat “Wong Jepara” dalam memahat kehidupan tidak pernah padam. Kini, banyak pengrajin mulai memadukan desain kontemporer tanpa meninggalkan pakem ukiran tradisional.

Seni ukir Jepara bukan hanya tentang kayu dan pahat, tetapi tentang jiwa, sejarah, dan kebanggaan yang diwariskan dari satu ketukan palu ke ketukan berikutnya.


(Joe)