JEPARA | MATAMERDEKA.COM – Masalah klasik pendangkalan di Muara Kali Wiso kembali mencapai titik kritis pada akhir Maret 2026. Jalur vital bagi masyarakat pesisir Desa Ujungbatu dan sekitarnya kini menjadi “momok” menakutkan bagi ratusan nelayan yang kesulitan menyandarkan perahu maupun berangkat melaut akibat penebalan sedimen lumpur yang kian parah.
Akses Terputus: Nelayan Terjebak Pasang Surut
Kondisi muara yang berbatasan langsung dengan laut lepas ini kini tidak lagi ramah bagi transportasi laut lokal.
- Kendala Operasional: Perahu nelayan seringkali kandas dan terjebak lumpur, terutama saat air laut surut.
- Efisiensi Terganggu: Banyak nelayan terpaksa menunggu berjam-jam hingga air pasang tiba atau mencari jalur memutar yang jauh lebih jauh, yang berujung pada pemborosan bahan bakar dan tenaga.
“Pendangkalan di Muara Kali Wiso memang sangat parah. Ini sangat mengganggu aktivitas kami sehari-hari,” keluh Nur Azis, salah satu nelayan setempat yang telah merasakan dampak ini selama bertahun-tahun.
Dampak Ekonomi: Penghasilan Nelayan Kecil Terjun Bebas
Secara teknis, pendangkalan ini berdampak langsung pada rantai ekonomi perikanan di Jepara:
- Waktu Tangkap Berkurang: Sulitnya akses keluar-masuk muara membuat durasi nelayan di laut menjadi lebih singkat.
- Risiko Kerusakan Perahu: Lambung perahu tradisional rentan rusak akibat bergesekan langsung dengan endapan pasir dan lumpur yang tajam.
- Penurunan Omzet: Bagi nelayan kecil, keterlambatan bersandar berarti keterlambatan membawa hasil tangkapan ke pasar, yang seringkali menurunkan harga jual ikan segar.
Harapan Solusi Jangka Panjang dari Pemerintah
Meskipun program normalisasi dan pengerukan pernah dilakukan sebelumnya, nyatanya sedimentasi kembali menumpuk dengan cepat. Masyarakat nelayan Jepara kini mendesak langkah konkret dari pemerintah daerah:
Solusi Teknis: Perlunya kajian mendalam mengenai pembangunan breakwater (pemecah gelombang) atau tanggul yang lebih efektif untuk meminimalisir aliran sedimen ke mulut muara.
Pengerukan Rutin: Nelayan berharap pengerukan tidak hanya dilakukan secara insidental, melainkan terjadwal secara berkala.
(Joe)

