Home » Daerah » Mata Jateng » Solusi Permanen Jalur Longsor: Pemkab Jepara Kebut Jalur Alternatif Sumanding-Tempur Senilai Rp 14 Miliar

Solusi Permanen Jalur Longsor: Pemkab Jepara Kebut Jalur Alternatif Sumanding-Tempur Senilai Rp 14 Miliar

JEPARA | MATAMERDEKA.COM – Pemerintah Kabupaten Jepara menunjukkan keseriusannya dalam mengatasi isolasi wilayah akibat bencana alam. Proyek pembukaan Jalur Alternatif Sumanding-Tempur kini menjadi prioritas utama untuk menyelamatkan akses menuju Desa Tempur, desa tertinggi di “Bumi Kartini” yang kerap terputus dari peradaban saat musim hujan tiba.

Darurat Akses: Lima Kali Longsor dalam Satu Bulan

Kondisi geografis Desa Tempur di lereng Pegunungan Muria menjadikannya sangat rentan. Memasuki akhir Maret 2026, situasi aksesibilitas mencapai titik kritis:

  • Jalur Existing Lumpuh: Dua akses utama via Desa Damarwulan dan jalur Cluwak (Pati) sudah tidak dapat dilalui kendaraan sejak Januari 2026.
  • Intensitas Bencana Tinggi: BPBD mencatat sedikitnya lima kejadian longsor susulan sepanjang Maret 2026, yang menimbun badan jalan di dekat pemukiman warga.

Update Proyek: Progres 80 Persen, Target Rampung April 2026

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, memberikan angin segar bagi warga terdampak. Dalam tinjauan lapangan terbaru, ia memastikan pengerjaan fisik berjalan sesuai jadwal.

  1. Capaian Fisik: Hingga hari ini, progres pembukaan lahan dan pembentukan badan jalan telah mencapai 80 persen.
  2. Target Operasional: Jalur baru ini diprediksi akan tuntas dalam waktu empat pekan ke depan.
  3. Alokasi Anggaran: Dana sebesar Rp 14 miliar telah disiapkan melalui APBD Perubahan 2026 yang dikelola langsung oleh Dinas PUPR Jepara.

“Saat ini progresnya sekitar 80 persen. Optimistis dalam empat pekan atau sebulan ke depan sudah clear dan bisa digunakan,” tegas Bupati Witiarso Utomo.

Dampak Strategis: Memulihkan Ekonomi dan Pariwisata Muria

Pembukaan jalur Sumanding-Tempur bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan urat nadi ekonomi baru:

Ketahanan Infrastruktur: Dinas PUPR fokus pada penguatan tebing dan sistem drainase jalan untuk memastikan jalur ini tetap kokoh menghadapi cuaca ekstrem di pegunungan.

Konektivitas Desa Wisata: Sebagai destinasi unggulan, kepastian akses sangat dinantikan oleh para pelaku wisata di Desa Tempur agar kunjungan pelancong kembali normal.

Keamanan Logistik: Jalur alternatif ini dirancang lebih aman dari titik rawan longsor dibanding jalur lama, sehingga distribusi kebutuhan pokok warga tidak lagi terhambat.


(Joe)