Home » Daerah » Mata Jateng » Pesta Lomban: Manifestasi Syukur dan Harmoni Bahari Masyarakat Jepara

Pesta Lomban: Manifestasi Syukur dan Harmoni Bahari Masyarakat Jepara

JEPARA | MATAMERDEKA.COM Pesta Lomban, atau yang sering disebut sebagai “Bakda Kupat” (Lebaran Ketupat), adalah tradisi maritim terbesar di Kabupaten Jepara yang diselenggarakan setiap tanggal 8 Syawal (seminggu setelah Idulfitri). Tradisi ini merupakan perpaduan antara nilai religius, kearifan lokal nelayan, dan identitas historis Jepara sebagai kota pelabuhan.

1. Akar Sejarah dan Asal-Usul

Secara historis, terdapat dua versi utama mengenai awal mula Pesta Lomban:

  • Era Kesultanan Demak: Tradisi ini diperkirakan berakar dari masa penyebaran Islam oleh para Wali Songo di pesisir utara Jawa sebagai sarana dakwah yang mengadopsi budaya lokal.
  • Legenda Penyelamatan di Laut (1855): Secara tertulis, sejarah mencatat peristiwa tahun 1855 ketika dua pejabat atau tokoh penting terjebak badai di laut dan berhasil diselamatkan oleh para nelayan. Sebagai ungkapan syukur, mereka mengadakan jamuan makan bersama para nelayan, yang kemudian berkembang menjadi perayaan tahunan.
  • Etimologi: Nama “Lomban” berasal dari kata Jawa “Lomba-lomba” yang berarti bersenang-senang atau merayakan kegembiraan setelah sebulan penuh berpuasa.

2. Ritual Inti: Pelarungan Sesaji Kepala Kerbau

Puncak dari Pesta Lomban adalah prosesi pelarungan sesaji yang memiliki makna simbolis mendalam:

  • Sesaji Kepala Kerbau: Kepala kerbau yang dibungkus kain putih beserta sesaji lainnya dilarung ke tengah laut (biasanya menuju perairan dekat Pulau Panjang).
  • Simbolisme: Kepala kerbau dipilih sebagai simbol pengorbanan dan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah serta doa untuk keselamatan para nelayan saat melaut di tahun mendatang.
  • Pemberangkatan: Prosesi ini dipimpin oleh Bupati Jepara dan dikawal oleh ratusan kapal nelayan yang dihias warna-warni dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu.

3. Tradisi Pendukung: Perang Nasi dan Makan Bersama

Setelah pelarungan sesaji, suasana berubah menjadi pesta rakyat yang meriah:

  • Perang Nasi: Di beberapa titik pantai (terutama Pantai Kartini), masyarakat melakukan aksi saling lempar nasi bungkus sebagai simbol tolak bala dan sukacita.
  • Makan Ketupat Bersama: Keluarga nelayan dan wisatawan berkumpul di tepi pantai untuk menyantap ketupat dan lepet bersama-sama. Hal ini melambangkan kerukunan dan persaudaraan antarwarga (ukhuwah).

4. Transformasi Budaya dan Pariwisata

Dalam sejarah modern, Pesta Lomban telah berevolusi dari sekadar ritual nelayan menjadi Event Pariwisata Nasional:

Dampak Ekonomi: Tradisi ini menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor transportasi laut, kuliner khas, dan kerajinan tangan.

Identitas Daerah: Pemerintah Kabupaten Jepara menjadikan tradisi ini sebagai daya tarik utama untuk memperkenalkan potensi maritim dan budaya Jepara ke kancah internasional.



(Joe)