JEPARA | MATAMERDEKA.COM – Tradisi larungan sesaji di Jepara telah dijalankan selama 178 tahun, dimulai pada masa pemerintahan Adipati Citrosomo VII (1837–1857). Kisahnya berawal dari dua pejabat kadipaten yang selamat dari badai dahsyat saat berlayar ke Karimunjawa pada 1855, sehingga tradisi ini lahir sebagai ungkapan syukur.
Menurut cerita lisan masyarakat, peristiwa badai itu memicu ritual larungan sesaji yang kini dikenal sebagai Pesta Lomban. Dokumentasi tertua muncul di jurnal Hindia Belanda Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (TNI) edisi 1868, berjudul Het Loemban Feest Te Japara. Saat itu, pesta unik hanya ada di Jepara, tak ditemukan di pesisir lain.

Kemeriahan Lomban Pada Tahun 1868
Pesta Lomban 1868 di Jepara benar-benar penuh warna dan gemuruh, seperti festival laut yang hidup dari catatan sejarah Belanda. Ratusan perahu nelayan berjejer megah, dihias gulungan bunga pandan wangi, kenanga harum, serta soka merah menyala yang menjuntai dari tiang hingga buritan. Setiap perahu unggul membawa tumpukan ketupat hijau segar di haluan dan belakang, sementara perahu bupati yang jadi pusat perhatian dilengkapi 12 payung besar beroda bambu putih kapur, beberapa bergambar harimau garang, naga melingkar, atau ikan raksasa yang berkilau.
Irama gamelan Jawa berdentam riang bercampur tabuh giro berbunyi nyaring, mengiringi armada bergerak pelan dari muara sungai menuju laut lepas, disusul sorak sorai warga yang memadati perahu hingga oleng. Setelah dua jam berlayar, rombongan bersandar di Pulau Encik Lanang yang mistis; di sana, warga berebut ikan bakar asap mengepul, membeli dagangan pedagang keliling seperti kolang-kaling manis dan jajanan pasar, sambil bergurau di bawah pohon rindang. Puncaknya, rombongan ziarah ke makam Melayu kuno, menabur bunga dan dupa sambil berdoa, sebelum bupati dan tamu istimewa menyantap hidangan mewah di pendopo darurat penuh ketupat beraroma santan.
Tiba saatnya puncak kegembiraan: ribuan telur dan ketupat dilempar ke angkasa biru, memicu kekacauan meriah saat warga saling berebut di air dangkal, tertawa basah kuyup dengan tangan penuh rampasan. Suasana seperti karnaval liar yang menyatukan syukur, adat, dan kebersamaan nelayan, tak pernah pudar hingga kini.
Puncak Acara
Setelah makan siang, peserta ziarah ke makam Melayu di pulau itu, meletakkan bunga dan dupa. Bupati dan tamu bersantap di pendopo sementara, dengan ketupat berlimpah; pertandingan diawali lempar ribuan telur dan ketupat ke udara, memicu rebutan kolang-kaling di antara warga. Penelitian Dr. Alamsyah (Undip) membandingkan tradisi ini dengan era modern, menegaskan kelestariannya.
Tradisi Pesta Lomban Jepara bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus bergema di setiap hembusan angin laut. Dari badai dahsyat 1855 hingga kemeriahan 1868 yang diabadikan dalam catatan Belanda, pesta ini menyatukan syukur, adat, dan semangat gotong royong nelayan yang tak lekang waktu. Hingga kini, larungan sesaji dan rebutan ketupat di Pulau Encik Lanang tetap jadi magnet wisata, mengingatkan kita bahwa di balik ombak ganas, ada kisah keberanian dan kebersamaan.
(Joe)

